CERPEN

Cinta Yang Salah


Cuaca enggan bersahabat dengan rencana yang telah aku buat. Matahari tak ingin menampakkan dirinya lagi meskipun ini baru pukul dua siang. Hanya hujan yang aku dapati sedari tadi, aku mulai mencemaskannya. Akankah mungkin hujan akan berhenti pada waktunya. Aku abaikan semua perasaan yang menggelayut dalam hatiku, ku coba lupakan semuanya dengan beristirahat untuk tidur siang sejenak sembari menunggu waktunya tiba.
Dalam peristirahatanku sebelum kupejamkan mataku mencoba membayangkan apa yang nantinya akan terjadi
“Akankah mungkin si dia akan datang” kataku dalam hati
“Ahh . .  tidak mungkin diakan bukan satu sekolahku, dia juga bukan pelatihku  . .  mana mungkin dia datang” kujawab sendiri pertanyaan yang tadinya aku lontarkan.
Dan sepanjang perjalananku sebelum tidur yang ku bayangkan hanyalah rencanaku untuk buka bersama teman satu kontingenku. Serta berbagai macam pertanyaan dan angan-angan bersamanya semuanyaa indah dalam benakku saat itu. Hingga tak terasa mataku mulai terpejam yang tak lagi kuhiraukan dinginnya hawa yang menusuk tulangku.
Ku buka mataku Brr . . .  rasanya dingin sekali, rupanya hujan sedari tadi tak kunjung reda juga padahal hari mulai gelap. Aku takut mengecewakan teman-temanku. Aku takut tak dapat hadir dalam acara buka bersama. Ku buka layar ponselku kucoba otak-atik no yang tertera di layar HP-ku berharap ada yang membalasnya. Benar saja beberapa menit kemudian ponselku berdering kulihat nama yang tertera, Novi rupanya, ia membalas sms dariku
“iya mbak, ini di rumahku masih hujan “. Langsung saja aku balas sms darinya “yaudah nov  sabar aja tungguin sampe reda dulu” begitu kira-kira balasan yang aku berikan padanya.
Benar saja beberapa saat kemudian hujan mulai mereda langsung saja ku ambil handukku untuk bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Setelah aku selesai mandi ku lihat beberapa sms yang masuk pada layar Hand Phone-ku “ayo berangkat aku sudah sampe sini. Aku tunggu di perempatan depan ya mbak” kata febri dalam smsnya.
Begitu aku sampai di sana hanya ada beberapa orang saja hanya ada aku, febri dan puji saja.
“Yang lain kemana?” kataku pada febri dengan tangan yang masih kusembunyikan dalam jaket.
“Gak tau nih mbak, Indah sama novi baru aku sms-in” jawabnya sambil mengetik sms pada layar ponselnya.
“Mbak indra jadi datang kan?” Tanya puji yang sedari tadi mengeluh kedinginan.
“Kemarin sih, bilangnya bisa ikutan, tapi gak tau deh sekarang datang apa ngakk. Tau sendirikan cuacanya begini” sahut febri yang masih tak beranjak dari layar ponselnya.
 “Memang iya sihh, dari tadi siang hujan tidak berhenti. Ketika berhenti sebentar sudah disusul gerimis. Kayaknya yang datang bakalan sedikit dehh. Padahal janjiannya jam setengah lima” kataku dalam hati sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima lewat di Resto tersebut.
Tak lama kemudian mas cahya datang bersama seorang gadis yang cantik.
“Baru ini yang datang? Yang lain kemana?” ucap mas cahya.
“Iya mas ini novi sama indah katanya mau sampe” jawab febri pada mas cahya.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya teman-teman yang lain berdatangan, namun Karena cuaca yang sedari tadi hujan tak banyak pula anak-anak yang hadir karena berhalangan datang untuk buka bersama. Aku sangat terkejut dengan semua yang hadir disini terutama para pelatihku mas cahya dan mas syam, mereka datang dengan membawa pendampingnya masing-masing padahal mas syam pernah dekat dekat dengan mbak indra apa jadinya jika nanti dia datang. Tak pernah terpikir olehku betapa sakitnya hatinya itu.
Memang semua yang datang membawa kejutan tersendiri begitupun dengan diriku yang terkejut akan kehadiranmu. Yah, kamu datang bersama temanmu serta Dian dan siti orang yang memang aku kenal karena kita pernah satu pelatih, namun kamu tak satu meja denganku akupun tak bisa memperhatikanmu dan aku tak pernah tau apa yang kalian bicarakan.
Aku mencoba melupakan apa yang dilakukan mereka aku mencoba melupakan apa yang sedang dia kerjakan. Sembari menunggu waktunya berbuka aku menikmati lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi resto tersebut hingga tak terasa waktu berbuka telah tiba aku dan teman-teman segera menyantap hidangan yang telah tersedia.
Setelah buka kami tak segera beranjak kami masih mengobrol dengan ditemani macam-macam lagu yang disenandungkan oleh penyanyi banci itu. Memang suaranya saat berbicara boleh saja berat seperti seorang laki-laki tapi jangan ragukan ketika ia menyanyi, suaranya menjelma menjadi nada-nada seorang perempuan yang melengking hingga tak ada yang tau jika ia seorang laki-laki, ditambah lagi dengan beberapa goyangan hotnya di sela-sela lagu yang ia senandungkan sehingga mengundang gelak tawa diantara percakapan kami.
Tiba-tiba dari ada suara dari depan yang ingin menyanyikan sebuah lagu, aku kira hanya pelanggan biasa yang akan menyanyikan lagu seperti orang-orang yang sebelumnya. Namun, semua yang aku pikirkan salah ketika yang dipanggil adalah Oleh penyanyi itu adalah Dian.
“Sini dek, tadi yang mau nyanyi kesini donk kedalam” ucap penyanyi banci itu dengan lenggakan khasnya.
“Sini donk dian itu katanya mau nyanyi sama pacarnya atau apa itu tadi” sambungnya lagi diikuti tepuk tangan ketika ia datang ke dalam.
“Nyanyi . .  ?sama pacarnya . . ? bukannya dia Cuma dateng sama siti mas soleh sama  mas . . . . ”  tiba-tiba lamunanku terhenti ketika kudapati dian masuk bersama mas choi. Seorang yang sedari tadi aku pikirkan.
“Ya Allah . . . kenapa rasanya hatiku tak karuan begini, hatiku rasanya tak enak ingin sekali aku meninggalkan tempat ini dengan segera” kataku dalam hati pikiranku kacau rasanya, kepalaku mendadak pusing ketika aku melihat dia duet bersama dian dengan lagu “Birunya Cinta” lagu favoritnya.
Aku memperhatikan setiap gerakan yang ia lakukan saat menyanyi hanya sesekali aku mengalihkan pandanganku. Bahkan aku tak memperdulikan suaranya yang sedikit sumbang, yang kulihat hanyalah dia dan ekspresinya ketika berduet dengan Dian aku mencoba membaca arti ekspresi yang ia lakukan saat berduet dengannya.
Rasanya ada yang sedikit aneh dengan perasaanku ketika melihat dia berdua dengan Dian. Aku seperti di dalam atmosfer yang berbeda, aku  seperti tercenung untuk beberapa saat Hatiku tak karuan ingin sekali aku segera pulang ke rumah.
“Tuhan . . sadarkan aku bahwa ini hanyalah mimpi ya Rabb, lalu apa artinya selama ini dia selalu mengatakan rindu padaku?”  
Setelahnya ia selesai menyanyikan lagu terdengar beberapa temanku riuh ricuh memberi tepuk tangan padanya. Dengan sedikit terpaksa aku tersenyum dan memberi tepuk tangan untuknya.
Tak selang beberapa lama akhirnya kami pamitan untuk pulang terlebih dahulu, untung saja indah segera mengajak kami pulang jikalau tidak entah apa yang akan terjadi lagi. Mbak indra beruntung sekali yang tak datang malam ini jika tidak mungkin ia akan merasakan rasa yang sama ketika melihat mas syam datang ditemani oleh wanita lain. Berbeda denganku yang merasa sangat tidak beruntung yang harus bertemu dengan mas Irul dengan keadaan seperti ini.
Setibanya aku di rumah perasaanku masih tak tenang aku masih kepikiran mengenai kejadian tadi. Untung saja adzan isya’segera berkumandang lekas saja kulangkahkan kaki  menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat isya’ dan tarawih. Aku memang sengaja berangkat lebih awal tidak seperti biasanya yang bertele-tele bahkan sampai iqamah aku baru berangkat dari rumah maklum aku selalu menyepelekan dan berangkat belakangan karena jarak rumah ke masjid yang lumayan dekat. Sebelum iqamah aku sempatkan untuk sholat sunah qabliyah isya’.
Dalam beberapa rakaat awal hatiku masih resah, masih tengiang secara jelas tiap memori yang menghantuiku. Aku mencoba menenangkan diri karena aku tak mungkin menyembah kepada Allah tapi, pikiranku kemana-mana.
Alhamdulillah pada pertengahan shalat hatiku mulai tenang dan memoriku mengenainya sedikit terlupakan. Dan setelahnya aku pulang dari sholat tarawih aku untuk menambah ketengan hatiku, aku langsung membuka mushaf al-qur’anku kubaca ayat demi ayat rasanya sejuk sekali. Terima kasih ya Allah engkau telah menurunka al-qur’an sebagai sumber daripada ketengan dan petunjukmu.
Dulu aku melakukan semua ibadah ini hanya karena menyembah Allah karena takut akan siksanya di akhirat nanti tapi aku salah aku harusnya melakukan semua ini karena kecintaanku pada Allah dan rasulnya melebihi cintaku pada orang tua ataupun orang lain.
Dan kini aku sadar bahwa kecintaan pada seorang manusia akan menimbulkan angkara dan kesedihan akan tetapi kecintaan kita terhadap Allah akan menimbulkan kebahagiaan sejati.
Mulai sekarang aku akan belajar mencintaimu dan rasulmu dengan baik dan benar karena ku tau inilah cinta yang sebenar-nya.


cerpen ini merupakan salah satu cerpen karya saya yang sudah di publikasikan di Kafe Coffe dan kalian bisa melihatnya di http://kafekopi.blogspot.co.id/2016/06/cinta-yang-salah.html . semoga bermanfaat . . ! :) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar